Kehidupan dan kematian adalah kehidupan yang pasti, namun itu adalah kuasa mutlak Tuhan yang maha kuasa namum jika seseorang telah di vonis bahwa hidupnya tinggal menghitung waktu hampir semua orang akan menjadi takut menghadapi kematiannya. Wajar dan banyak diataranya kemudia mempunyai keinginan-keinginan tertentu yang belum pernah ia alami atau dia punya selama hidup yang yang sala juga dialami dari beberapa mendiang berikut ini, inilah kisa yang mungkin bisa mmenjadi inspirasi anda dalam memahami dalam kondisi apapun kita hidup tetaplah berharga






1. Bertemu Putri Salju ( Diamond Marshall )


Diamond Marshall

Kisah pangeran dan putri raja adalah cerita yang paling menakjubkan bagi hampir sebagian besar anak-anak perempuan. Begitu juga dengan Diamond Marshall, gadis cilik usia 6 tahun yang terkena kanker langka jadi semangat untuk sembuh setelah dipeluk sang putri raja yang cantik jelita.

Diamond Marshall didiagnosis memiliki kanker kelenjar adrenal yang langka. Saat menderita kanker ini ia memiliki impian untuk bertemu dengan seorang putri. Ternyata pertemuannya dengan putri Kate Middleton, istri pangeran William dari Inggris memberikan dampak yang positif untuk kesembuhan penyakitnya.

Gadis cilik yang berasal dari Kanada ini memiliki mimpi untuk bertemu dengan Putri Tidur Aurora dari Disneyland. Ternyata Children's Wish Foundation of Canada berhasil mempertemukannya dengan sosok putri yang lain yaitu Duchess of Cambridge, Kate Middleton.

Sang ayah, Lyall Marshall percaya kunjungan Kerajaan dan pertemuan putrinya dengan Kate Middleton bisa membantu Diamond memerangi penyakitnya. Diamond sendiri sudah kehilangan ibunya, Memory (32 tahun) akibat kanker yang berbeda, 4 tahun lalu.

"Dia kagum pada dongeng putri seperti kisah Princess Kate, karenanya pertemuan itu akan membangkitkan semangatnya untuk terus berjuang," ujar Lyall Marshall, seperti dikutip dari Dailymail, Senin (26/12/2011).

Pertemuannya dengan The Duchess ternyata memberikan dampak yang besar bagi Diamond. Ia merasa impiannya menjadi kenyataan dan memberinya semangat untuk terus berjuang melawan penyakit kankernya tersebut.

Pertemuan Diamond dengan Princess Kate bermula ketika orangtuanya mengetahui bahwa Kate Middleton akan datang ke Calgary. Diamond pun sangat antusias untuk bertemu dengan Putri, ia pun menulis surat yang menyentuh untuk Duchess yang mengungkapkan keinginannya untuk bertemu.

Beberapa hari kemudian, orangtuanya mendapat telepon dari Children's Wish Foundation of Canada bahwa ada kemungkinan Diamond bisa bertemu dengan Duchess of Cambridge. Tentu saja hal ini membuat Diamond sangat senang.

Akhirnya Diamond pun berhasil bertemu dengan Princess Kate ketika menyambut sang putri sambil memberikan bucket bunga. Kate pun memuji gaun yang digunakan oleh Diamond dan memberinya sebuah pelukan.

Diamond didiagnosis dengan undifferentiated sarcoma, yaitu suatu kanker langka di masa kanak-kanak yang mempengaruhi jaringan lunaknya. Sejak didiagnosis ia sudah menjalani operasi, dirawat di rumah sakit hingga berminggu-minggu, serta kehilangan rambutnya akibat pengobatan tumor di perutnya.

Gejala yang muncul meliputi nyeri atau bengkak di daerah yang terkena kanker. Jika ukurannya sangat besar maka bisa menekan organ lain dan mempengaruhi kinerjanya. Pengobatan yang diberikan tergantung pada bagian tubuh mana yang kena, apakah sudah menyebar dan berapa banyak jaringan yang sudah diangkat dalam operasi.

"Diamond menjalani operasi pada hari Senin (19/12/2011) untuk mengangkat sejumlah tumor dan hasil biopsi menunjukkan saat ini ia bebas kanker. Ini seperti sebuah keajaiban, sebut saja keajaiban Natal," ujar Lyall Marshall.

Meski operasi sudah membuatnya terbebas dari kanker, tapi Diamond tetap harus menghadapi operasi transplantasi sumsum tulang belakang dan beberapa sesi kemoterapi di awal tahun depan.

2. Meraih Gelar Sarjana ( Harriet Richardson Ames )


Harriet Richardson Ames

Impian Harriet Richardson Ames untuk meraih gelar sarjana akhirnya terwujud saat pensiunan guru asal Amerika Serikat itu berusia 100 tahun. 

Sayang, dia tak dapat terlalu lama menikmati kebanggaan sebagai sarjana. Sebab, sehari setelah menerima ijazah, Ames meninggal dunia. 

Putrinya, Marjorie Carpetenter, menuturkan bahwa Ames telah mewujudkan dua impian terbesarnya pada Januari ini. Pertama, sang ibu dapat merayakan ulang tahun ke-100 pada 2 Januari lalu. Kedua, dia meraih gelar sarjana tiga pekan setelah perayaan ultah tersebut.

’’Dia telah mendapatkan ‘kado terbesar’, dan itu merupakan hadiah terakhir yang diperolehnya,’’ kata Marjorie.

Ames memperoleh ijazah guru dari Keene Normal School (kini Keene State College) pada 1931. Dia kemudian mengajar di sekolah yang hanya terdiri atas satu ruangan kelas di South Newbury. Setelah itu, dia menjadi guru selama 20 tahun di Memorial School, Pittsfield. Di sekolah tersebut, dia mendidik siswa kelas satu.

Di sela-sela kesibukan mengajar itu, dia juga mengikuti kuliah selama bertahun-tahun di University of New Hampshire, Plymouth Teachers College, dan Keene State College. Namun, karena mengalami gangguan penglihatan, Ames tidak aktif lagi kuliah, dan dia juga mengajukan pensiun sebagai guru pada 1971. 

Saat itu, ’’riwayat pendidikan’’ Ames di perguruan tinggi seakan-akan telah hilang. Namun, beberapa tahun lalu, seorang dosen Keene State College membuka-buka arsip lama dan menemukan fakta bahwa Ames layak meraih gelar sarjana. 

’’Ames selalu ingin melakukan yang terbaik,’’ kata Norma Walker, koordinator ikatan alumni Keene State College untuk lulusan yang berusia di atas 50 tahun atau lebih.

Walker menuturkan, Ames menangis terharu ketika diberi tahu bahwa perguruan tinggi itu sedang memroses kelulusannya. ’’Dia sampai berkata: ’Andaikan saya meninggal besok, saya yakin bahwa saya meninggal dalam kebahagiaan karena berhasil meraih gelar itu

3. Menghadiri Pesta Dansa ( Brett Marie Christian )


Brett Marie Christian

Brett Marie Christian, 15, menderita leukemia dan prognosis menyatakan tidak baik. Dia sedang sekarat, tapi sebelum dia meninggal, dia ingin melakukan dansa terakhir tapi ia terlalu sakit untuk pergi ke Homecoming Dance. Jadi teman-teman sekelasnya membuat permintaan terakhirnya menjadi kenyataan dan membawa pesta dansa padanya. Dan begitulah pesta dansa Sekola Palmyra diadakan lebih awal tahun ini di Monarch, Lincoln, di mana orang - orang berada diambang maut.

Dia mengenakan gaun pink dan dengan rambutnya ikal. Dia melakukan manikur dan pedikur terakhirnya. Teman dansanya membelikannya korsase dan kalung, juga.Brett dan Treyton Carter melakukan dansa pertama di ruang pesta, dengan 50 atau lebih dari teman sekelas mereka yang berpakaian pesta. Miss Christian dimahkotai ratu pesta dansa pada malam Sabtu dan meninggal tiga hari kemudian dengan seluruh keluarganya berada di sekitarnya. "Ada banyak hal yang dia lewatkan, Menikah, punya anak, dan menjadi tua ,Tapi dia hanya ingin melakukan dansa yang terakhir kalinya".

4. Menonton Film UP ( Colby Curtin )



Colby Curtin yang mengutarakan keinginan terakhirnya; Menonton film terbaru dari Disney-Pixar, "UP"

Namun, kondisi tubuh yang tidak memungkinkan membuat dia sulit untuk menonton di bioskop karena serangan kanker yang dideritanya.

Dibantu oleh saudaranya yang menghubungi pihak Disney. Keesokan harinya, sejumlah tim dari Disney membantu untuk mewujudkan keinginan terakhirnya tersebut dengan memutarkan film "UP" dalam bentuk DVD di rumah Colby.

“I’m ready (to die), but I’m going to wait for the movie,” katanya.

Usai film diputar dan seluruh tim dari Disney pun pulang. Ya, Colby menyelesaikan keinginannya dengan indah, dia meninggal pada malam yang sama.

5. Memberi Makan Tunawisma ( Brenden Foster )



Brenden Foster (4 Oktober 1997 - November 21, 2008) adalah seorang anak laki-laki dari Bothell, Washington, didiagnosa dengan leukemia lymphoblastic akut pada tahun 2005. stasiun penyiaran lokal,KOMO, melaporkan kisah keinginan terakhir Brenden, untuk memberi makan tunawisma. Ia mengatakan ia ingin menjadi malaikat sehingga dia bisa membantu tunawisma dari Surga. Cerita ini banyak menjadi inspirasi, dan menjadi perhatian media nasional, bahkan menarik perhatian internasional.

Brenden Foster Food Drive dibuat oleh stasiun penyiaran untuk menghormatinya. Di Seattle, relawan dari Emerald City Lights Bike Ride menyiapkan lebih dari 200 sandwich untuk tunawisma. Terinspirasi dari bagian dalam "Stuff the Truck" food drive untuk menghormati Brenden's, mengisi tujuh truk bahan makanan dan $ 95.000 tunai memberikan manfaat kepada Northwest Harvest dan Food Lifeline. Cerita Brenden juga mencapai stasiun TV di Portland, Oregon, Katu, yang melaporkan tindakan terinspirasi oleh Brenden di Los Angeles, Ohio, dan Pensacola, Florida. Pada Misi Union Rescue di Los Angeles, misalnya, lebih dari 2.500 makanan telah disajikan dengan nama Brenden's.

Mimpinya agar para tunawisma ditempatkan di tenda-tenda kota terus diingat. Seorang veteran Perang Vietnam dari Kentucky yang kehilangan kakinya di perang sangat tersentuh oleh cerita itu, dia memberikan Brenden penghargaan purple heartnya. Seattle Seahawks NFL franchise membiayai pemakaman Brenden, ia dikuburkan di Evergreen Washelli Cemetery di Seattle, Washington

6. Ikut Bernyanyi Dan Bertemu Simon Cowell ( Bethany Fenton )


Bethany Fenton, 5, yang didiagnosis dengan tumor otak pada tahun 2009, telah dikabulkan keinginan terbesarnya - bernyanyi untuk Simon Cowell. Mimpinya menjadi kenyataan di Britain's Got Talent studio di London. Setelah itu, dia berkata: "Simon biarkan aku nyanyi 'Twinkle Twinkle Little Star' kepadanya. Dia begitu baik dan aku mencintai dia "Betania meninggal di sebuah rumah sakit tiga hari kemudian..


Juru bicara Cowell Max Clifford mengatakan, "Dia benar-benar sedih, ia betapa dia gadis kecil yang sangat cantik. Dia adalah seorang gadis kecil yang sangat spesial baginya dan Simon sangat tersentuh ketika ia bernyanyi untuk dia ... hatinya keluar untuk ibu Bethany dan ayah dan ia memikirkan mereka "Seorang juru bicara bagi keluarga Bethany mengatakan,". Ayahnya mengatakan bahwa ia telah melakukan apa yang selalu ingin dilakukan, bertemu Simon Cowell dan bernyanyi untuknya. Dia telah mencapai mimpi besarnya dan sekarang siap untuk meninggalkan bumi ini.

7. Menikah Menjelang Kematian ( Kristie Mills )


Kristie Mills

Sejak masa kanak-kanak, Kristie Mills menderita cystic fibrosis, sebuah penyakit paru-paru kronis yang berakibat fatal. Meski divonis takkan berumur panjang, pada umur 21 Kristie memutuskan menikah dengan kekasihnya, Stuart Tancock, pada musim panas ini.

Kisah perjalanan Kristie ke gerbang pernikahan ditayangkan dalam acara “Breathless Bride: Dying to Live”, program dokumenter yang tayang di TLC beberapa malam lalu.

Kami mewawancara Kristie via email, karena dia tidak sanggup diwawancara via telepon. Kristie menjawab pertanyaan kami dengan jujur, spontan, dan emosional.

Pernikahan Kristie menggunakan "bunga palsu dan kue pernikahan yang tidak dibuat khusus.” Tempat pernikahannya pun dipilih yang kira-kira dapat dibatalkan sewaktu-waktu, jika Kristie merasa sangat sakit.

Ini bukan sekadar cerita tentang sebuah pernikahan. Ini cerita tentang pernikahan yang hampir tidak dapat terwujud.

Kristie, yang tinggal di Inggris, berkenalan dengan Stuart dua tahun lalu. Sejak saat itu, Stuart menjadi teman sekaligus motivatior untuk Kristie. Pergi ke tempat pernikahan dan meninggalkan rumah sakit dapat berakibat fatal, kata Kristie. Dia sudah diperkirakan akan meninggal dalam beberapa hari jika tidak menerima donor organ tepat waktu.

"Aku rasa mereka mewujudkan permintaan terakhirku," tulis Kristie dalam email. Malam itu dia kembali ke rumah sakit. "Para perawat mengatakan aku akan meninggal." 

Karena membutuhkan paru-paru untuk bertahan hidup, tiga bulan sebelum menikah Kristie sudah mendaftar untuk transplantasi. Ajaibnya, delapan hari setelah menikah, dia mendapatkan donor yang cocok.

Operasi dilakukan selama empat jam dan pemulihan awal sangat menyakitkan. "Aku tidak pernah membayangkan rasanya akan sesakit itu. Aku bahkan berhalusinasi dan merasa sangat tersiksa setelah menjalani transplantasi."

Kristie tidak menjelaskan lebih lanjut mengenai donor atau keluarga donor yang menolongnya, namun dia bercerita tentang perasaan yang campur aduk setelah menerima organ tersebut.

"Aku masih berduka [untuk keluarga pendonor] dan berharap lebih baik aku yang mati daripada membuat mereka melakukannya. Pendonorku memutuskan untuk menyumbangkan paru-parunya, dan keluarganya, walaupun sedih, akhirnya menyetujuinya. Itu merupakan perbuatan yang sangat mulia."

Kini Kristie tinggal bersama suaminya di Devon. Kristie menuliskan pengalamannya di blog, membantu mencarikan donor baru, dan meningkatkan kesadaran tentang penyakit cystic fibrosis dengan ceritanya tersebut. 

Meski dengan kondisi kesehatan yang tak prima, Kristie mencoba menjadi istri yang baik. Pasangan itu menghabiskan waktu bersama ketika sedang tidak bekerja. Mereka memasak bersama, pergi nonton ke bioskop, bahkan panjat tebing. Kini Kristie sudah jauh lebih pulih.

Kristie juga realistis tentang kemungkinan mempunyai anak. "Aku tidak mempunyai harapan hidup yang normal, jadi aku tidak mau punya anak karena aku tahu aku pasti akan meninggalkannya sewaktu-waktu dan aku akan sangat sakit. Lalu Stuart harus mengurus anakku dan aku."

Kristie menyadari besarnya bahaya melahirkan setelah transplantasi — ditambah lagi kemungkinan menurunkan penyakit cystic fibrosis ke anaknya. Namun dia dan suaminya ingin menjadi orangtua asuh suatu saat. Pada saat ini, yang terpenting untuk mereka adalah pernikahannya.

"Aku menjalani pernikahan dengan sangat serius. Aku rasa tidak banyak orang yang mengalami seperti yang kami alami. Stuarts kadang mengatakan padaku betapa berat bebannya saat sedang bersamaku dan betapa dia tidak sanggup melihatku menderita dan meninggal.”

Itulah 7 Permintaan Sebelum Meninggalm, Jangan Lupa Like Dan Share yaa...!

Source:


 
Top